Sejarah Seni Rupa Indonesia
Sejarah seni rupa Indonesia adalah salah satu
kisah yang membanggakan sekaligus menghanyutkan. Bagaimana tidak, salah satu
peradaban tua yang maju ini berkali-kali di interfrensi keberadaannya oleh
budaya asing. Namun masyarakat Nusantara juga mengandalkan penyerapan dan
akulturasi dari budaya luar untuk bisa berkembang dengan cepat. Sehingga
sejarah kita mengalami ekuilibrium budaya yang akhirnya membuncah setelah
kedatangan Islam dan kolonialisme Eropa.
Pengertian Sejarah dan
Fungsinya
Sebelum membahas sejarah seni rupa Indonesia,
sebaiknya kita memosisikan diri terlebih dahulu terhadap salah satu definisi
sejarah yang ajeg. Mengapa? karena kesalahpahaman terhadap pemahaman sejarah
sendiri dapat membuat kita tidak mampu benar-benar menyerap pembelajaran di
dalamnya. Meskipun selalu diusahakan sebagai suatu fakta ilmiah, sejarah tidak
selamanya benar.
Sejarah tetap memiliki kekurangan dari ilmu
non eksak lainnya, yakni tidak dapat benar-benar mencapai suatu hukum pasti
(seperti hukum newton) yang dapat memvalidasi kebenaran suatu hal dalam
berbagai waktu dan konteks. Mungkin salah satu idiom yang paling terkenal
mengenai sejarah adalah “sejarah ditulis oleh pihak yang menang”. Ya, karena
itulah kini sejarah merupakan suatu upaya untuk mencari kebenaran peristiwa
yang terjadi dengan membandingkan berbagai sumber dan bahkan versi sejarah lalu
mengambil kesimpulan terbaik dari apa yang sesungguhnya terjadi.
Sejarah adalah pengetahuan mengenai peristiwa
yang pernah terjadi di masa lampau dalam kurun waktu tertentu. Kejadian sejarah
tersebut dapat diamati melalui bukti-bukti tertulis, dokumentasi dialog maupun
saksi bisu seperti artefak. Selain itu, peristiwa sejarah juga dapat mencatat
berbagai konteks lain yang lebih luas seperti budaya suatu masyarakat dalam disiplin
ilmu turunannya; antropologi.
Dalam perkembangannya, sejarah kini banyak
menggunakan disiplin Ilmu Bandingan untuk memastikan akurasi sumber yang
diperoleh. Ilmu bandingan ini disebut sangat efektif dan efisien untuk
memastikan kebenaran suatu hal hingga disiplin ilmu lainnya seperti seni dan
sastra kini banyak menggunakannya pula karena terpengaruhi oleh ilmu sejarah.
Mengapa harus menggunakan bandingan? karena
seperti pada kebiasaan peradaban manusia umumnya, dokumentasi sumber sejarah
biasanya ditulis oleh pihak yang unggul di masanya. Sehingga sumber sejarah
menjadi tidak objektif dan berpihak terhadap yang unggul atau menang.
Membandingkan antar sumber menjadi hal yang krusial untuk mendapatkan kebenaran
yang sejati.
Jadi apa itu Sejarah Seni Rupa? Dapat
disimpulkan bahwa sejarah seni rupa adalah berbagai upaya pencarian dan
pengetahuan mengenai peristiwa, artefak, hingga kebudayaan seni rupa yang
terjadi dan berkembang di masa lalu dalam kurun waktu tertentu. Sementara itu,
pengertian seni rupa sendiri dapat dilihat disini.
Fungsi dan Manfaat
Sejarah
Berbagai peristiwa yang telah terjadi di masa
lampau adalah kenyataan yang tidak dapat diubah. Dengan demikian, peristiwa
yang telah terjadi tersebut merupakan salah satu bagian dari kenyataan yang
sedang kita hadapi sekarang. Sementara itu peristiwa yang terjadi pada waktu
yang akan datang merupakan kenyataan yang dapat direncanakan dari sekarang.
Masa lampau, masa sekarang, dan masa depan
merupakan rangkaian berkaitan yang erat satu sama lain. Keterkaitan rangkaian
itulah yang mendorong manusia untuk mempelajari sejarah. Kita dapat menggunakan
sejarah sebagai salah satu referensi untuk membentuk rencana menghadapi masa
depan. Artinya, mempelajari sejarah juga merupakan salah satu usaha untuk
meningkatkan kesejahteraan di masa kini pula.
Pembagian Periodisasi
Sejarah Seni Rupa Indonesia
Masyarakat nusantara tidak memiliki tradisi
pencatatan sejarah yang amat kuat. Apalagi catatan teks historis mengenai
sejarah seni rupa. Bahkan sebagian besar sumber teks sejarah Indonesia harus
digali dari dokumentasi pemerintahan kolonial Belanda. Karena alasan itu pula,
artefak-artefak sejarah seni rupa Indonesia sendiri merupakan material yang
sangat penting sebagai sumber sejarah. Para arkeolog memegang peranan sangat
penting untuk menguak sejarah seni rupa Indonesia. Selain itu, para antropolog
(peneliti kebudayaan) juga menjadi sumber utama dalam pengetahuan sejarah seni
rupa Indonesia.
Maka dari itu, salah satu hal yang dilakukan
sebelum membahas sejarah seni rupa Indonesia adalah menentukan jenis periodisasi
yang ingin dibahas. Apakah kita akan membahas sejarah Indonesia berdasarkan
pertumbuhannya atau kita akan melihat periodisasi berdasarkan ciri
peninggalannya (kacamata arkeologi)?
Intinya, kita dapat menyusun linimasa
perkembangan seni rupa Indonesia berdasarkan pertumbuhan, atau ciri
peninggalannya seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.
Periodisasi Sejarah Seni
Rupa Indonesia berdasarkan Pertumbuhannya
Berdasarkan pertumbuhan atau perkembangan
zamannya, periodisasi sejarah seni rupa indonesia dapat dibagi menjadi beberapa
zaman berikut ini.
1. Zaman prasejarah
Sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5
Masehi. Zaman ini dapat dibagi menjadi beberapa Zaman yaitu: zaman batu tua
(Paleolitikum), zaman batu tengah (Mesolitikum), dan zaman batu muda
(Neolitikum).
2. Zaman logam
Meliputi: zaman perunggu; dan zaman besi. Zaman tembaga tidak ditemukan di
Asia, termasuk di Indonesia.
3. Zaman purba
sejak datangnya
pengaruh India, yakni pada abad-abad pertama tarikh Masehi sampai lenyapnya
kerajaan Majapahit (sekitar 1500 M).
4. Zaman madya
Sejak datangnya
pengaruh Islam di Indonesia, yakni menjelang akhir zaman Majapahit sampai akhir
abad ke-19.
5. Zaman baru
Sejak masuknya
anasir-anasir Barat dan teknologi modern Indonesia, yakni kira-kira tahun 1900
Masehi sampai saat ini.
Periodisasi Sejarah Seni
Rupa Indonesia Berdasarkan Ciri Peninggalannya
Sementara itu, berdasarkan peninggalan
artefaknya, periodisasi sejarah seni rupa Indonesia dapat dibagi menjadi
beberapa periodisasi di bawah ini.
1. Seni rupa Prasejarah
2. Seni rupa Hindu-Budha
3. Seni rupa Islam
4. Seni rupa modern
Dari perbedaan kedua periodisasi di atas dapat
dilihat dengan jelas bagaimana beberapa istilah sejarah dalam sejarah seni rupa
akan saling berkaitan atau berkontradiksi satu sama lain antara periodisasi
berdasarkan peninggalan dan pertumbuhan zaman. Di sini akan dibahas sejarah
seni rupa Indonesia berdasarkan urutan ciri peninggalannya, namun tidak akan
mengabaikan konteks zaman-nya juga.
Sejarah Seni Rupa
Indonesia
Sebelumnya, Eropa dianggap sebagai pelopor
seni rupa karena ditemukannya berbagai benda seni kuno di sana. Namun kemudian
pernyataan tersebut diragukan, karena beberapa temuan benda dan karya seni yang
lebih tua di benua Afrika dan Asia Tenggara. Salah satu temuan karya tertua itu
adalah lukisan di gua Sulawesi yang berada di Indonesia.
Hingga saat ini diperkirakan lukisan gua
tersebut adalah lukisan tertua di dunia. Penjelasan tersebut sejalan dengan apa
yang akan kita bahas pertama disini, yaitu Seni Rupa Prasejarah.
Sejarah Seni Rupa
Prasejarah
Pembagian seni rupa prasejarah di Indonesia
dibedakan atas dua periode, yaitu zaman batu dan zaman perunggu. Pembabakan
tersebut didasarkan atas kemampuan teknik dan teknologi masyarakat prasejarah
tersebut. Terutama dalam menciptakan alat-alat yang diperlukan dalam mendukung
kelangsungan hidupnya.
Hal ini ditunjukkan dengan bukti
artefak-artefak yang mereka tinggalkan. Zaman batu atau disebut juga zaman
Megalitik yang terdiri dari:
1. zaman batu tua (Paleolitik),
2. zaman batu tengah (Mesolitik), dan
3. zaman batu muda (Neolitik).
Kehidupan Zaman
Prasejarah
Manusia hidup di masa Prasejarah dalam jangka
waktu yang sangat panjang. Pada masa ini hidup manusia belum terlalu bergantung
ke peralatan (gawai) seperti sekarang. Namun manusia sudah mulai membuat
alat-alat yang dapat membantu menjalani kehidupnya di dunia.
Tentunya, alat-alat yang dibuat masih
sederhana dan menyerupai bentuk bahan mentahnya. Misalnya alat untuk mencari
umbi-umbian sebagai bahan makanan atau alat untuk berburu. Alat-alat tersebut
dibuat menggunakan batu yang di pecahkan, tulang binatang yang diasah, dsb.
Kehidupan manusia pada masa ini juga belum
sepenuhnya menetap, mereka masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat
lainnya tergantung pada situasi dan kondisi setempat atau biasa disebut dengan
istilah nomaden. Jika tempat tinggal mereka sudah tidak subur lagi atau buruan
di sana habis, maka mereka akan pindah dan mencari tempat tinggal baru.
Tempat singgah yang digunakan di masa ini
hanyalah sebatas gua atau dataran terbuka yang terbebas dari ancaman binatang
buas. Di masa nomaden ini sering terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama
untuk anak-anak dan wanita. Sering di temukan rangka manusia yang
terpisah jauh dari temuan lainnya, yang berarti adalah beberapa korban dalam
perjalanan jauh ketika berpindah.
Sayangnya manusia prasejarah belum mampu
membuat rumah sebagai tempat tinggal tetap yang aman. Sehingga pada umumnya
mereka tinggal di gua untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Ketika mulai menetap di gua inilah, aktivitas
manusia dalam membuat berbagai karya juga mulai bertambah, seiring kebutuhan
yang meningkat untuk menciptakan alat-alat pertanian sederhana, ritual, dsb.
Pada akhirnya manusia mulai menemukan logam dan mengetahui cara mengolahnya.
Bahkan lama-kelamaan logam mulai menggeser kedudukan batu, yang pada akhirnya
hanya berfungsi sebagai benda pusaka saja dan kehilangan nilai praktis.
Karya Seni Rupa
Prasejarah
Salah satu peninggalan yang paling kuno dari
kesenian Indonesia adalah lukisan pada dinding gua-gua, seperti yang ditemukan
di Papua, di Kepulauan Kei dan Seram hingga di Sulawesi Selatan.
Lukisan-lukisan tersebut antara lain berupa cap telapak tangan dan telapak
kaki, gambar-gambar manusia yang sederhana, gambar-gambar binatang seperti babi
hutan, cecak, kadal, kura-kura, kerbau, dan lain sebagainya.
Di beberapa gua di Indonesia yang telah
disebutkan di atas terdapat bahkan terdapat gambar telapak tangan dengan jari
terpotong (tidak utuh). Ada pula gambar seekor binatang yang tampak sedang
diburu dengan menggunakan tombak. Van Heekeren, seorang arkeolog yang meneliti
gua-gua di dekat Maros Sulawesi Selatan menyatakan bahwa lukisan babi hutan
tertombak panah maupun ratusan gambar tangan yang terdapat di sana diduga
telah ada sejak tahun 2000 sebelum Masehi, bersamaan dengan berkembangnya
kebudayaan Toala.
Sedangkan pakar lain seperti Dr. Josef Roder
yang melakukan penelitian di daerah Papua menemukan lukisan-lukisan disana
telah ada dari sejak 1000 tahun sebelum Masehi. Beberapa diantaranya bahkan
baru dibuat 3-4 abad yang lalu.
Beberapa peninggalan artefak terpenting dari
seni rupa prasejarah Indonesia antara lain adalah sebagai berikut.
1. Kriya batu: Kapak genggam
2. Kriya tanah liat / gerabah
(Mesolitik-Neolitik)
Contoh karya seni rupa prasejarah indonesia
3. Lukisan dinding gua (Mesolitik-Megalitik)
Lukisan prasejarah di Gua Sulawesi
4. Bangunan megalitik (menhir, dolmen, sarkopak).
contoh dolmen prasejarah
5. Ragam hias prasejarah yang menyatu dengan
benda kriya
Peninggalan Seni Rupa
Prasejarah di Sulawesi Selatan
Salah satu peninggalan tertua di Indonesia
bahkan di dunia berada di Sulawesi Selatan, tepatnya di Leang Timpuseng. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh kerjasama Pusat Arkeologi Nasional, Balai
Arkeologi Makassar, BPCB Makassar, University of Wollongong dan Universitas
Griffith sepanjang tahun 2011-2013 menunjukkan bahwa stensil tangan yang berada
di sana berumur 39.900 tahun. Di sana juga ditemukan lukisan babirusa betina
yang usianya tidak kalah tua, yaitu 35.400 tahun.
Contoh seni rupa prasejarah Stensil/Cap tangan di gua
sulawesi
Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik muncul setelah adanya
tradisi bercocok tanam, atau masa neolitik. Biasanya bangunan megalitik
dipergunakan sebagai sarana pemujaan. Pemujaan tersebut didasarkan atas
kepercayaan mengenai adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati.
Manusia prasejarah mempercayai adanya pengaruh kuat dari roh orang yang telah
meninggal terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman.
Oleha karena itu jasa dari seorang kerabat
yang telah meninggal seringkali diabadikan dengan mendirikan bangunan batu
besar, yang kemudian dianggap sebagai medium penghormatan (ritual), tempat
bersemayam roh dan sekaligus sebagai lambang si mati (Wahyono dkk., 1991, hlm.
29).
Bentuk-bentuk bangunan megalitik tersebut
berupa menhir, meja batu, dll. Bentuk-bentuk peninggalan monumental megalitik
di Indonesia diwarnai oleh batu yang berkaitan dengan pemujaan maupun
upacara-upacara penguburan. Walaupun tradisi ini sudah hampir punah, namun
beberapa daerah di Indonesia seperti Nias, Toraja, Flores, dan Sumba masih
menjalankannya.
Contoh Karya seni zaman
Perunggu
Gelombang perpindahan kedua dari daratan Asia
ke Nusantara pada 500 tahun sebelum Masehi membawa serta kebudayaan perunggunya
ke tempat tinggal mereka yang baru. Hal ini meninggalkan banyak peninggalan
sejarah seni rupa baru di Indonesia. Peninggalan artefaknya antara lain sebagai
berikut.
1. Kria Perunggu/Seni Dongson (genderang
perunggu)
2. Kapak perunggu
3. Patung perunggu
4. Ragam hias Prasejarah/Tradisi pada karya
perunggu
Gong nekara selayar, contoh benda seni perunggu prasejarah
Ciri-ciri seni rupa
prasejarah Indonesia
Untuk mempermudah pemahaman karya seni di
zaman ini sebaiknya kita mengetahui ciri-ciri dari objek seni yang
ditemukannya. Adapun ciri-ciri tradisi seni hias Indonesia yang bersumber dari
seni prasejarah itu sendiri antara lain adalah sebagai berikut.
1. Kecenderungan untuk menggunakan bentuk flora
dan fauna yang menimbulkan kesan dekoratif sesuai dengan lingkungannya yang
agraris.
2. Menampilkan bentuk-bentuk ornamen geometri
(meander, swastika, tumpal, pilin, pilin berganda, lingkaran, dan sebagainya).
3. Kecenderungan menampilkan motif-motif hias
perlambangan (simbolis) sesuai dengan pandangan hidup religi yang masih
kosmis-magis.
4. Kecenderungan pada penggunaan warna dasar
sesuai dengan lingkungan alam dan pandangan kepercayaan.
Sumber inspirasi yang banyak dimanfaatkan
sebagai objek seni antara lain burung sebagai lambang roh manusia yang telah
meninggal. Bagi masyarakat Dayak burung Enggang dianggap sebagi lambang dunia
atas. Binatang reptil juga banyak digunakan, seperti buaya, kadal, ular,
kura-kura dianggap sebagai lambang dunia bawah.
Kemudian, binatang lainnya adalah kuda,
kerbau, dan gajah sebagai kendaraan roh orang yang telah meninggal. Kerbau juga
dapat disebut sebagai lambang kesuburan, dan penolak bala. Berbagai ciri seni
hias prasejarah ini menjadi dasar dari tradisi seni Indonesia yang berpengaruh
pada zaman berikutnya, yaitu periode Hindu-Budha atau bisa di sebut zaman
klasik.
Sejarah Seni Rupa Klasik
(Hindu-Budha)
Berdasarkan peninggalan arkeologisnya,
zaman klasik di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu:
1. Zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad
ke-8—10 M, dan
2. Zaman Klasik Muda yang berkembang antara abad
ke-11—15 M.
Kedua zaman itu berkembang di berbagai wilayah
nusantara, termasuk Jawa, Sumatera dan Bali, namun bukti arkeologi dalam zaman
Klasik Tua banyak didapatkan di wilayah Jawa tengah. Karena itu terkadang
beberapa ahli menyebut zaman klasik ini juga dengan Zaman Jawa Tengah.
Penyebutan itu sebetulnya kurang tepat.
Seperti yang telah dibahas di atas bahwa pembagian zaman harus berdasarkan pada
kronologi waktunya, bukan banyak temuannya. Pembagian Zaman Klasik yang
didasarkan pada kronologi peninggalan tersebut untuk memperluas cakupan kajian,
jadi tidak melulu bicara tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur
belaka (Munandar 1995, hlm. 108).
Perkembangan Zaman Seni
Rupa Klasik Indonesia
Masa Sejarah (Paskasejarah, lawan dari
Prasejarah) di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti
awal (bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan
Timur yang menyebut nama raja Mulawarman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan
Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman.
Prasasti-prasasti itu menggunakan aksara
Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974, hlm. 14—15); sedangkan
nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti tersebut bercorak Veda
kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah itulah pengaruh
kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara eksklusif di beberapa
bagian Nusantara.
Namun kedepannya pengaruh kebudayaan India
awal yang menyebarkan ajaran Veda-Brahmana tersebut tampak kurang diminati lagi
oleh masyarakat nusantara. Runtuhnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat juga
ikut mempengaruhi hal ini.
Tidak ada lagi yang meneruskan ritual Veda
Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana. Justru muncul kerajaan baru yang
bernafaskan Hindu Trimurti di wilayah Jawa Tengah pada abad ke-8 M. Kerajaan
itu adalah Mataram Kuno yang membangun Prasasti Canggal pada tahun 732 M.
Dalam prasasti itu dinyatakan nama raja yang
menitahkan pembangunan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan yang cukup
kentara dalam prasasti itu adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak
memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952, hlm. 53—55).
Bersamaan dengan masuknya pengaruh
Hindu-saiva, datang pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika
(Mahayana) ke tengah-tengah masyarakat Jawa Kuno. Akhirnya di Jawa bagian
tengah antara abad ke-8—10 M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa
(Hindu-saiva) dan Buddha Mahayana yang berasal dari India.
Dalam perkembangannya banyak dihasilkan
berbagai bentuk kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti
seni rupa yang berupa arca dan relief serta dan karya arsitektur bangunan suci.
Karya Seni Rupa Zaman
Klasik (Hindu-Budha)
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, karya seni
rupa zaman klasik Hindu-Budha didominasi oleh arsitektur religi dan ragam hias
dindingnya. Ragam hias yang paling umum digunakan adalah padma teratai. Padma
dapat melambangkan tahta dewa tertinggi, terbentuknya alam semesta, kelahiran
Budha, kebenaran utama, tempat kekuatan hayati dan suci bagi kaum Yogin dan
rasa kasih. Bentuk hias lain yang dominan adalah sebagai berikut.
1. Swastika yang melambangkan daya dan
keselarasan jagad raya.
contoh swastika di pura goa lawah bali.
wikipedia.
2. Kalamakara yang terdiri dari Kala yang
melambangkan waktu, dan Makara yang berupa makhluk seperti buaya.
contoh karya seni rupa klasik indonesia:
kalamakara, indonesiaasisee.
3. Kinnara, berwujud manusia setengah burung yang
merupakan anggota dari kelompok dewa penghuni langit.
Pengaruh zaman Hindu-Budha dalam bidang seni
rupa sangat kental dalam bidang arsitektur, khususnya arsitektur pada bangunan
candi. Candi di Indonesia dibedakan menjadi candi Hindu dan candi Budha.
1. Candi Hindu,
Arsitektur candi Hindu Indonesia memiliki gaya yang mirip hingga dengan gaya
India Selatan. Misalnya Candi Syiwa Lara Jonggrang di Jawa Tengah. Candi
tersebut melukiskan penafsiran masyarakat (atau setidaknya perancangnya)
mengenai keadaan setempat yang terperinci, hingga ke berbagai tempat pemujaan
agama Hindu yang menunjukkan ciri Syiwaisme.
Peninggalan seni rupa hindu, candi prambanan
2. Candi Budha,
Bangunan candi Budha, seperti Candi Borobudur, tidak memiliki gaya yang mirip
dengan gaya India. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat konsentris. Enam
tingkat paling bawah dirancang sebuah bidang persegi, sementara empat tingkat
di atasnya merupakan stupa utama berbentuk lingkaran.
candi borobudur (budha).
formasimediaindonesia.
Seni Hias Pra-Islam
Selain kebudayaan dan ragam hias yang
dihasilkan dari akulturasi India, masyarakat nusantara juga telah memiliki
kebudayaan ragam hias khas yang tidak datang dari India, seperti kain batik.
Awal pembuatan batik sudah dimulai sejak zaman prasejarah, kain simbut dari
Priangan adalah contoh batik asli yang dibuat dari bahan kanji ketan sebagai
penutup kain (Yudoseputro, 1986, hlm. 96, Djumena, 1990, hlm. 86-87, Anas,
1997, hlm. 15-16).
Sebutan batik yang paling tua terdapat dalam
sebuah naskah Sunda yang ditemukan di selatan Cirebon dan bertanggal 1440
Saka/1518 M (Lombard, 1996, hlm. 193). Kata batik belum disebut di sana, tetapi
yang ada adalah kata tulis yang sejak itu lazim dipakai untuk pembubuhan
malam ke atas kain.
Selain itu disebut-sebut nama teknis dari
sembilan motif, yang beberapa diantaranya terus muncul dari masa ke masa.
Istilah batik untuk pertama kali disebut dalam tulisan Eropa di
Daghregister di Batavia, tertanggal 8 April 1641.
Teknik batik dapat dengan cepat menyebar di
Jawa karena tekniknya berasal dari pesisiran dan pelabuhan. Batik masuk ke
kerajaan Mataram, kemudian berkembang dan dibudayakan di Cirebon, Pekalongan,
Yogya, Solo, dsb. Di ibukota-ibukota Jawa bagian tengah, motif dan warna batik
selalu mengikuti kaidah-kaidah yang ketat. Sebaliknya di pesisir batik terus
menerus diperbaharui dan mengikuti selera khas dari pengerajinnya.
Sejarah Seni Rupa Madya
(Pengaruh Islam)
Pengaruh Islam terhadap seni rupa Indonesia
terjadi dari hasil perdagangan yang dimulai sejak abad ke-11. Para pedagang
dari Gujarat, India, adalah yang diketahui yang paling berpengaruh besar dalam
menyebarkan agama Islam di Indonesia. Mereka membangun permukiman di sepanjang
Pantai Timur Sumatra dan Aceh. Selanjutnya pusat-pusat kebudayaan Islam
dibangun secara bertahap di Demak dan Jepara.
Islam memberikan pengaruh kebudayaan yang
besar terhadap seni rupa nusantara. Salah satu pengaruh terbesarnya adalah
pandangan retrospektif terhadap kebudayaan-kebudayaan nusantara sebelum
dipengaruhi oleh Zaman Klasik hingga ke Prasejarah. Motif-motif binatang dan
yang berhubungan dengan kepercayaan manusia perlahan berkurang.
Hal ini disebabkan oleh usaha para pemeluk
Islam untuk menyebarkan agamanya di Indonesia dihadapkan dengan permasalahan
budaya masyarakat nusantara dari kepercayaan sebelumnya masih kentara. Ragam
hias nusantara digantikan oleh pola hias bentuk-bentuk alam. Beberapa pengaruh
terbesar Islam pada seni rupa Indonesia adalah sebagai berikut.
Pola hias bentuk-bentuk
alam
Pada zaman madya kegemaran menggunakan motif
hias yang bersumber pada ragam hias geometris dan ragam hias tumbuhan hadir
kembali di masyarakat nusantara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebetulnya
ragam hias geometri dan alam sudah dikenal sejak zaman prasejarah.
Namun, pada zaman Islam semacam di revive atau
dikampanyekan ulang menggunakan pendekatan retrospektif terhadap budaya yang
dianggap lebih Islami daripada kepercayaan-kepercayaan masyarakat nusantara
sebelumnya. Motif ini selalu muncul kembali dalam perkembangan seni dekoratif
Indonesia dengan pola dan susunan yang baru.
Pada masa Islam motif-motif hias geometri ini
terus berkembang, sebagai bentuk penerus tradisi seni hias zaman Hindu-Budha
maupun sebagai hasil pengembangannya. Hal tersebut tampak jelas pada ornamen
batik yang berkembang pesat pada masa Islam.
Adanya ragam hias motif tumbuhan yang sudah
lama dikenal di Indonesia sangat mudah dipahami, karena lingkungan alam
Indonesia yang kaya dengan tumbuhan selalu menjadi sumber daya cipta para
seniman untuk berkarya. Sesuai dengan kosmologi bangsa Indonesia, maka jenis tumbuhan
yang hadir sebagai hiasan memiliki arti perlambangan.
Pada masa Hindu-Budha arti perlambangan ini
disesuaikan dengan ikonografi dalam kesenian Hindu dan Budha. Pada masa
Islam nilai-nilai perlambangan tersebut tetap dipelihara dan dikembangkan terus
dalam menentukan desain ornamental melalui pandangan yang baru.
Pahatan Makam
Batu nisan gaya Gujarat ditemukan di Samudera
Pasai (Aceh Utara) dan Gresik. Pahatan yang digunakan berbeda dengan pahatan
yang biasa ditemukan di nusantara sebelumnya. Sama seperti pola hias yang
kembali banyak menggunakan bentuk-bentuk alam. Terkadang kaligrafi Islam juga
digunakan.
Arsitektur gaya Islam
Indonesia
Arsitektur masjid Indonesia berbeda dengan
yang ditemukan di negara Islam lainnya. Masjid lama dibangun dengan mengikuti
prinsip dasar bangunan kayu, dan disertai dengan pembangunan pendapa di bagian
depan. Akulturasi budaya nusantara dan islam tampak jelas disini.
Selain itu juga biasanya masjid di Indonesia
memiliki atap tumpang yang memberikan ventilasi, dan disangga oleh deretan
tiang kayu. Masjid-masjid tersebut terdapat di Cirebon, Banten, Demak, dan
Kudus. Bagian dalamnya dihiasi berbagai pola hias bentuk-bentuk alam seperti
bunga, dedaunan, pola geometris dan kaligrafi.
masjid wapaue, salah satu masjid tertua di Indonesia
Kaligrafi
Kaligrafi nusantara sangat dipengaruhi oleh
Islam, khususnya kaligrafi Arab. Berbagai benda yang biasa digunakan untuk
upacara adat di Indonesia di masa ini juga sering dihiasi oleh kaligrafi.
Berbagai senjata seperti belati, tombak, dan pedang juga sering dihiasi
kaligrafi.
Istana juga kini dihiasi oleh kaligrafi.
Wayang juga sering dihiasi oleh kaligrafi untuk menyamarkan bentuk manusianya.
Arab gundul juga sempat menjadi aksara yang cukup dominan digunakan sebagai
tulisan sehari-hari masyarakat nusantara.
Batik Islam
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
batik sebetulnya telah ditemukan dari masa prasejarah. Namun pada Seni Rupa
Madya inilah perkembangannya mulai melaju pesat. Karena berkembang pada masa
ini pula, batik juga ikut dipengaruhi oleh budaya islam.
Ragam hias ilmu ukur yang sering dijumpai pada
atik seperti tumpal, banji, meander, swastika dan motif pilin mulai
ditinggalkan. Digantikan oleh motif flora seperti bunga, bentuk buah, dan
dedaunan.
Sejarah Seni Rupa Modern
Indonesia
Pada masa ini, Indonesia masih terbentuk
sebagai koloni Belanda dan masih bernama Hindia-Belanda. Perjalanan seni rupa
modern Indonesia terbata-bata di bawah penjajahan VOC. Meskipun begitu program
kolonialisasi Belanda berhasil mencetak setidaknya satu orang yang diketahui
merintis seni rupa di negeri ini. Periode itu kemudian menstimulus periode seni
rupa modern lainnya. Periode-periode seni rupa modern tersebut adalah sebagai
berikut.
Periode Perintis
(1826-1880)
Perkembangan periode perintis diawali oleh
seniman legendaris Indonesia, Raden Saleh. Berkat pengalamannya dan pendidikan
melukisnya di luar negeri seperti di Belanda, Perancis, dan Jermania ia dapat
merintis kemunculan seni rupa Modern di Indonesia. Lukisannya bernafaskan
aliran Romantisisme. Aliran yang sedang berkembang pesat di masa itu. Biografi dan contoh karya Raden
Saleh dapat disimak disini.
Periode Indonesia Jelita
(Mooi Indie)
Masa ini merupakan kelanjutan dari periode
perintis, setelah berakhirnya periode perintis karena meninggalnya Raden Saleh.
Nama besar yang muncul di periode ini adalah Abdullah Surio Subroto dan diikuti
oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Trijoto Abdullah.
Pelukis Indonesia lainnya juga ikut bermunculan seperti Sunoyo, Suharyo,
Pringadi, Henk Ngantung, Wakidi, dll. Periode ini disebut dengan masa Indonesia
Jelita karena Senimannya banyak melukiskan tentang kemolekan atau keindahan
alam Hindia-Belanda.
Karya penting Periode
Indonesia Jelita:
1. Abdullah SR: Pemandangan di sekitar Gn.
Merapi, Pemandangan di Jawa Tengah, Dataran Tinggi di Bandung
2. Pringadi, melalui lukisan Pelabuhan Ratu
3. Basuki Abdullah: Pemandangan, Gadis sederhana,
Pantai Flores, Gadis Bali
Contoh lainnya dapat dipelajari melalui: biografi dan contoh karya lukis
Basuki Abdullah di sini.
Periode PERSAGI
Pada periode ini, Indonesia sedang berjuang
untuk mendapatkan hak kemerdekaannya dari Belanda. Pergolakan di segala bidang
pun terjadi, begitu pula dalam bidang kesenian yang sedang berusaha mencari
ciri khasnya, yaitu Seni Rupa Indonesia. Salah satu seniman besar yang dikenal
memiliki kontribusi tinggi adalah S. Sdjojono. Ia merasa tidak puas dengan
periode seni Jelita yang serba indah, karena dianggap bertolak belakang dengan
kejadian yang melanda tanah air.
Sebagai langkah pergerakannya S. Sudjojono dan
Agus Jayasuminta bersama rekan-rekannya yang lain mendirikan PERSAGI (Persatuan
Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni rupa di
Indonesia dengan mencari gaya Indonesia asli. Konsep persagi itu sendiri adalah
semangat dan keberanian, bukan sekedar keahlian melukis, melainkan melukis
dengan tumpahan jiwa.
Karya-karya penting
PERSAGI:
1. Sudjojono: Di depan kelambu terbuka, Cap Go
Meh, Jongkatan dan Bunga kamboja
2. Agus Jayasuminta: Barata Yudha, Arjuna wiwaha,
Dalam Taman Nirwana
3. Otto Jaya: Penggodaan, Wanita impian
seni
rupa modern indonesia di depan kelambu terbuka oleh Soedjojono. lukisanku.id
Periode Pendudukan Jepang
Kegiatan seni rupa pada masa ini didominasi
oleh kelompok Keimin Bunka Shidoso. Kelompok ini membawa misi
propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya yang di inisiasi oleh Jepang.
Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan dibantu oleh seniman
Indonesia seperti Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung.
Namun masyarakat kita juga tidak berhenti
berjuang sendiri, kelompok asli Indonesia mendirikan PUTRA (Pusat Tenaga
Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai
yaitu: Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur. Seniman yang
khusus menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis
yang ikut bergabung dalam PUTRA diantaranya adalah: Hendra Gunawan, Sudarso,
Barli, Wahdi, dll.
Periode Akademi (1950)
Periode ini memulai pengembangan seni rupa
Indonesia melalui pendidikan formal. Lembaga Pendidikan yang bernama ASRI
berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 Lembaga tersebut mulai
membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru seni rupa
di Indonesia. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka program Seni Rupa ITB, kemudian
dibuka jurusan pendidikan seni rupa disemua IKIP (Institut keguruan dan ilmu
pendidikan) diseluruh Indonesia.
Periode Seni Rupa Baru
Di sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru
dalam seni lukis yang dipelopori oleh Jim Supangkat, S. Prinka, Dee Eri Supria,
dkk. Kelompok ini menampilkan gaya baru dalam seni lukis Indonesia yang
terpengaruh oleh keilmuan seni modern barat. Kelompok ini berusaha untuk
membebaskan diri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada. Konsep
kelompok ini adalah:
1. Tidak membedakan disiplin seni
2. Menghilangkan sikap seseorang dalam
mengkhususkan penciptaan seni
3. Mendambakan kreatifitas baru
4. Membebaskan diri dari batasan-batasan yang
sudah mapan
5. Bersifat eksperimental
Referensi
1. Soedarso SP. (1990/1991). Seni Rupa Indonesia
dalam Masa Prasejarah
2. Soekmono. (1993). Pengantar Sejarah Kebudayaan
Indonesia 1, 2, 3 Yogyakarta: Kanisius.
3. Munandar, A.A. & Yulianto, K. (1995). Research
Report: Arsitektur Gua sebagai Sarana Peribadatan dalam Masa Hindu-Buddha.
Depok: Universitas Indonesia.
4. Yudoseputro. (1986). Pengantar Seni Rupa Islam di
Indonesia. Bandung : Angkasa
5. Djumena, Nian S. 1990. Batik Dan Mitra (Batik
And Its Kind). Jakarta: Djambatan
6. Anas, Biranul. 1997. Indonesia Indah “Batik”
Buku ke-8. Jakarta: Yayasan Harapan Kita, BP3 Taman Mini Indonesia Indah.

0 comments